Minggu, 20 Desember 2009

Meraih Sukses Menurut Q.S. Al-Hajj (22) Ayat 77

BAB I
PENDAHULUAN

Setiap manusia mengharapkan kesuksesan, kemenangan, keberuntungan, dan kebahagiaan. Namun, untuk mencapainya tidaklah mudah. Banyak halangan dan rintangan yang harus dihadapi. Ibarat orang yang sedang mendaki gunung ke puncak, harus melewati bukit yang terjal.
Allah SWT menciptakan manusia pasti dengan hikmah. Allah menghendaki manusia agar hidup bahagia dan sukses di dunia dan akhirat. Salah satu bukti kehendak Allah tersebut adalah diturunkannya Al-Qur’an. Al-Qur’an merupakan petunjuk hidup manusia agar sukses menjalani hidup di dunia dan akhirat.
Banyak ayat Al-Qur’an yang menerangkan cara agar manusia mendapatkan kesuksesan. Salah satu ayat yang akan dibahas dalam makalah ini adalah Q.S. Al-Hajj (22) ayat 77. Penulis mencoba untuk mengkaji dari beberapa tafsir Al-Qur’an. Penulis sajikan pula beberapa ayat yang terkait dengan kesuksesan.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Sukses
Kata sukses dalam Al-Qur’an sering menggunakan kata aflaha, tuflihuun, atau muflihuun. Kata aflaha yuflihu menurut kamus bahasa Arab memiliki arti menang, jaya, berhasil maksudnya, sukses (lawan gagal). Kata muflih berarti yang menang atau yang berhasil maksudnya. (Mahmud Yunus, 1973:323)
Dalam terjemah-terjemah Al-Qur’an ke dalam bahasa Indonesia juga menggunakan kata-kata tersebut. Dengan kata lain, kemenangan, keberuntungan, kejayaan, dan kebahagiaan merupakan bagian dari kesuksesan.
Kita dapat dikatakan sukses ketika kita dapat menggapai yang kita harapkan atau yang kita cita-citakan. Sukses juga sering kita sandingkan saat kita terlepas dari kesulitan hidup. Namun, makna yang sebenarnya dari kesuksesan adalah saat kita dapat berbahagia baik di dunia maupun di akhirat.
B. Tafsir Q.S. Al-Hajj (22):77
 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.”
Ayat di atas merupakan perintah yang ditujukan kepada kaum beriman agar melaksanakan misi mereka. Hai orang-orang yang beriman, ruku’ dan sujudlah kamu, yakni laksanakan shalat dengan baik dan benar, serta sembahlah Tuhan Pemelihara dan Yang selalu berbuat baik kepada kamu, persembahan dan ibadah antara lain dengan berpuasa, mengeluarkan zakat, melaksaakan haji, dan aneka ibadah lainnya dan perbuatlah kebajikan seperti bersedekah, silaturrahim, serta amal-amal baik dan akhlak yang mulia, semoga kamu yakni lakukanlah semua itu dengan harapan mendapat kemenangan.
M. Quraish Shihab berpendapat bahwa ayat ini secara umum telah mencakup semua tuntunan Islam, dimulai dari akidah yang ditandai dengan penamaan mereka yang diajak dengan orang-orang yang beriman, selanjutnya dengan memerintahkan shalat dengan menyebut dua rukunnya yang paling menonjol yaitu ruku’ dan sujud. Penyebutan shalat secara khusus karena ibadah ini merupakan tiang agama. Setelah itu disebut aneka ibadah yang mencakup banyak hal, bahkan dapat mencakup aktivitas sehari-hari jika motivasinya adalah mencari ridha Ilahi, dan akhirnya ditutup dengan perintah berbuat kebajikan yang menampung seluruh kebaikan duniawi dan ukhrawi, baik yang berdasar wahyu maupun nilai-nilai yang sejalan dengan tujuan syariat, baik yang berupa hukum dan undang-undang maupun tradisi dan adat istiadat. Jika hal-hal di atas dipenuhi oleh satu masyarakat, maka tidak diragukan pastilah mereka, secara individual dan kolektif, akan meraih keberuntungan yakni meraih apa yang mereka harapkan di dunia dan di akhirat.
La’allakum tuflihun (semoga kamu mendapat kemenangan) mengandung isyarat bahwa amal-amal yang diperintahkan itu, hendaklah dilakukan dengan harapan memperoleh al-falah (keberuntungan) yakni apa yang diharapkan di dunia dan di akhirat. Kata la’alla (semoga) yang tertuju kepada para pelaksana kebaikan itu, memberi kesan bahwa bukan amal-amal kebaikan itu yang menjamin perolehan harapan dan keberuntungan apalagi surga, tetapi surga adalah anugerah Allah dan semua keberuntungan merupakan anugerah dan atas izin-Nya semata.
Kata tuflihun terambil dari kata falaha yang juga digunakan dalam arti bertani. Penggunaan kata itu memberi kesan bahwa seorang yang melakukan kebaikan, hendaknya jangan segera mengharapkan tibanya hasil dalam waktu yang singkat. Ia harus merasakan dirinya sebagai petani yang harus bersusah payah membajak tanah, menanam benih, menyingkirkan hama, dan menyirami tanamannya, lalu harus menunggu hingga memetik buahnya. (M. Quraish Shihab, Vol-9, 2002:130 – 131)
Al-Maraghi (Juz 17, 1993:262) menafsirkan ayat ini sebagai berikut:
“Wahai orang-orang yang mempercayai Allah dan rasul-Nya, tunduklah kepada Allah dengan bersujud, beribadahlah kepada-Nya dengan segala apa yang kalian gunakan untuk menghambakan diri kepada-Nya, dan berbuatlah kebaikan yang diperintahkan kepada kalian, seperti mengadakan hubungan silaturahmi dan menghiasi diri dengan akhlak yang mulia, supaya kalian beruntung memperoleh pahala dan keridaan yang kalian cita-citakan.”

Prof. Dr. Hamka (Juz 17, 1981:257) berpendapat:
“Wahai orang-orang yang beriman, ruku’lah dan sujudlah kamu dan sembahlah Tuhan kamu. Maksud ketiga perintah adalah sembahyang. Karena diantara ibadat teguh hendaklah sembahyang, supaya sembahyang bertambah khusyu’ hendaklah iman. Iman adalah ketundukan akal. Sembahyang adalah memperdalam perasaan. Ruku’ dan sujud itu adalah melatih rasa tunduk. Menyembah Tuhan ialah dengan tunduk akan segala perintah dan menghentikan apa yang dilarang. Dan perbuatlah kebajikan, sembahyang adalah ibadat yang bertujuan mendekatkan diri dengan Tuhan. Berbuat kebajikan ialah meneguhkan hubungan dengan sesama manusia dengan menghubungkan silaturahmi dan menegakkan budi pekerti yang mulia. Supaya kamu mendapat kemenangan, kemenangan yang dicapai dengan teguh beribadat kepada Allah yang berpangkal dengan ruku’ dan sujud, tegasnya dengan sembahyang yang diimbangkan dengan kesukaan berbuat kebajikan, adalah dunia akhirat. Di dunia hati lapang, pikiran tidak tertubruk, ilham Tuhan datang, dan pergaulan luas. Di akhirat ialah surga yang dijanjikan Tuhan.”

Jadi, cara untuk menggapai kesuksesan menurut tafsir atas Q.S. Al-Hajj (22) ayat 77 adalah sebagai berikut:
1. Beriman kepada Allah SWT.
2. Mendirikan shalat sebagai tiang agama.
3. Beribadah menghambakan diri kepada Allah SWT dengan motivasi menggapai ridho-Nya.
4. Berbuat kebaikan yang mencakup kebaikan duniawi dan ukhrawi, baik yang berdasar wahyu maupun nilai-nilai yang sejalan dengan tujuan syariat, baik yang berupa hukum dan undang-undang maupun tradisi dan adat istiadat.
Jika hal-hal di atas dipenuhi oleh satu masyarakat, maka tidak diragukan pastilah mereka, secara individual dan kolektif, akan meraih keberuntungan yakni meraih apa yang mereka harapkan di dunia dan di akhirat.
C. Ayat-ayat Lainnya tentang Meraih Kesuksesan
1. Al-Baqarah:189
Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.
2. Ali Imran:104
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.
3. Al-A’la: 14
Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman)


BAB III
P E N U T U P

Sukses tidak diukur dengan banyaknya harta melimpah. Sukses juga tidak diukur dengan tingginya jabatan atau panjangnya gelar yang diperoleh. Namun, kesuksesan sesungguhnya adalah saat kita dapat merasakan ketenangan, kebahagiaan, dan keselamatan baik lahir dan batin maupun dunia dan akhirat.
Meraih sukses dapat dilakukan dengan berbagai macam cara. Diantaranya menurut Q.S. Al-Hajj (22) ayat 77 adalah sebagai berikut:
1. Beriman kepada Allah SWT.
2. Mendirikan shalat sebagai tiang agama.
3. Beribadah menghambakan diri kepada Allah SWT dengan motivasi menggapai ridho-Nya.
4. Berbuat kebaikan yang mencakup kebaikan duniawi dan ukhrawi, baik yang berdasar wahyu maupun nilai-nilai yang sejalan dengan tujuan syariat, baik yang berupa hukum dan undang-undang maupun tradisi dan adat istiadat.
Jika hal-hal di atas dipenuhi oleh satu masyarakat, maka tidak diragukan pastilah mereka, secara individual dan kolektif, akan meraih keberuntungan yakni meraih apa yang mereka harapkan di dunia dan di akhirat.


DAFTAR PUSTAKA

Al-Maraghi, Ahmad Mustafa. Tafsir Al-Maraghi Juz 17. pent. Bahrun Abubakar, dkk.. PT Karya Toha Putra, Semarang, cet. 11. 1993.

Hamka, Prof. Dr.. Tafsir Al-Azhar Juz 17. PT Pustaka Islam, Surabaya, cet. 2, 1981

Mahmud Yunus, Prof. H.. Kamus Arab-Indonesia. Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsiran Al-Qur’an. Jakarta. 1973.

Mohamad Taufiq. Quran In Word Ver 1.0.0. mtaufiq@rocketmail.com.

M. Quraish Shihab. Tafsir Al-Mishbah Volume 9. Lentera Hati, Jakarta, 2002

1 komentar:

  1. Trimakasih ..... senang membaca blog anda. Baca juga blog saya http://zulfianawaw.blogspot.com

    BalasHapus